Lanjutan Panggilan Keluarga Tionghoa

Dari semua tulisan ngaco saya di blog ini, ternyata tulisan Panggilan keluarga ini yang paling banyak mendapat respon meskipun sudah 3 tahun berlalu. Responnya pun beragam, mulai dari komentar “sangat membantu”, tanya jawab, minta dijelasin lagi, nyaranin bikin family treenya, hingga curhat silsilah yang membuat saya bingung sekaligus senyum-senyum sendiri.

Dari beberapa komen yang masuk, ada beberapa yang menggelitik, bikin saya geleng-geleng kepala sampai ngurut dada ga tahu harus menjawab apa dan gimana. 

Akhirnya kemaren saya membaca ulang kembali tulisan ini dan menyadari kebingungan netijen yang membaca, apalagi mereka ga familiar bahkan ga tahu tentang tata cara panggilan kekerabatan dalam keluarga Tionghoa. Beda dengan saya yang sudah bisa mengurutkan panggilan ini dalam pikiran saya, maklum ibu saya cukup keras untuk urusan kekerabatan dan sopan santun. Betul, bagan diperlukan untuk lebih membantu memahami tata cara panggilan keluarga Tionghoa ini, kalo bisa sih dibikinkan video malah lebih bagus lagi, nah ada yang bantuin bikin VLognya ga nih 🙄🤔

Dari banyaknya respon, komentar dan pertanyaan, saya jadi melihat bahwa masih banyak orang-orang yang kurang tahu dan pengen tahu tentang kebudayaan Tionghoa,  baik itu karena memang akan segera menikah ataupun karen penasaran dengan akar budayanya.

Sebenarnya banyak hal yang mau saya bagikan dari apa yang saya tahu dan pelajari dari ibu saya, dan beberapa cerita tentang kehidupan sebagai wanita keturunan Tionghoa dalam keseharian saya sebagai warga negara Indonesia yang lahir, besar, kerja, bayar pajak dan bangga dengan paspor hijau, Indonesia. Tentang pertemanan saya dengan mereka yang berbeda suku dan agama, tentang label “tipikal” tionghoa yang malah menjadi humor menyegarkan bagi saya dan teman-teman saya. 

Jujur saja saya tidak punya banyak keberanian mengingat apa yang sedang terjadi di masyarakat kita beberapa bulan terakhir. Tapo seorang teman malah menyarankan saya untuk menulis dengan bahasa sederhana dan dalam humor, sebagai bagian dari awarness kebhinekaan dari kacamata saya sebagai perempuan dengan darah peranakan saya. 

Tapi akan saya coba, mulai dari yang sederhana dulu ya karena mental saya belum sekuat mental dek Afi Nihaya 😊😊😊 di belantara netijen yang kritis.
Ada ide mau tulis apa dulu sebagai tulisan pembuka serial tionghoa peranakan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s