Soal Bahagia

Setiap orang berhak untuk hidup bahagia menurut ukuran dan standar mereka masing-masing.
Ada yang bahagia makan melulu, ada yang bahagia kalo bisa merem nafsu makannya.
Ada yang bahagia kalo gemuk ada yang bahagia kalo kurus
Ada yang bahagia dengan hidup apa adanya, ada yang bahagia harus dengan harta berlimpah.
Ada yang bahagia menjadi ibu rumah tangga dan ada yang bahagia dengan menjadi ibu pekerja.
Ada yang bahagia dengan menyemangati orang, ada yang bahagia dengan membully orang lain.
Ada yang bahagia dengan kesendiriaannya ada yang bahagia harus dengan berpasangan.
Semuanya macam dua mata sisi uang yang tidak bisa dipaksakan.

Okelah tanpa panjang lebar ke sana ke mari, yang mau gw omongin sebenarnya adalah semua orang bahagia dengan pilihannya masing-masing.

Beberapa hari ini pembicaraan di grup bbm sepupuan lagi hangat-hangatnya membicarakan rencana pernikahan adik sepupu di bulan Juni 2015 nanti. Pembicaraan mulai dari warna baju yang sampai detik ini belum ketok palu, model baju, seragam tidaknya baju di dua hari penting di akhir Juni 2015 nanti sampai bahasan tanggal pulkam. Berhari-hari penuh tawa dalam percakapan panjang tak berujung dari pagi hingga malam. Hari H tiba, adik sepupu itu dilamar oleh sang pacar lengkap dengan rombongan keluarga. Dan foto-fotopun berkeliaran di grup yang disambut bahagia oleh anggota grup yang tidak hadir di TKP.
Di salah satu fotonya ada bapak gw, tentu saja bapak gw sebagai om hadir di acara lamaran itu. Salah satu komentar adalah “kenapa wajah bapak gw seperti sedih” padahal gw yang anaknya tahu kalo wajah bapak gw memang kadang suka ditekuk untuk satu hal yang gw sendiri ga tahu kenapa. Jawabannya adalah mungkin karena bapak gw telat datang dan acara sudah mulai ketika dia datang. Well i have no idea why he came late and the proposal started without him. Kalo mau tarik benang dan didramain ya panjang yang hanya akan membuat masing-masing salah ya. Ya sudahlah.
Lalu muncullah komentar lain “mungkin dia (bapak gw) sedih karena ntah kapan anaknya akan dilamar” yang disertai dengan emoticon 🙂
Kebetulan otak gw lagi henk dan gw lagi ga temenan sama Mario Teguh (#AlingTeguh), cepat aja gw menjawab “itu akan ada waktu, sabar menanti. Buat apa buru-buru lalu kemudian hidup susah” klik send. Mulut gw agak kejam sih hari ini, karena sejak dulu gw memang paling ga bisa diatur dihujat dicibirin soal kapan gw kawin. I’m the master of my own life, im nobody’s puppets. Komentar selanjutnya adalah 🙂 🙂 dan pindah topik. Untungnya mereka tahu diri untuk tidak memperpanjang pembicaraan bau darah ini 🙂 lucky me.

imageGw tidak ingin membalas ucapan cibiran itu dengan kasar, hanya ingin menegaskan apapun kata-kata orang lain tidak akan membuat gw terprovokasi untuk buru-buru menikah meskipun kadang beberapa teman gw mulutnya pengen gw cabein ketika hastag tertentu muncul di setiap postingan gw di medsos.

Cibiran, oke ini terlalu kasar untuk dibilang cibiran, gw perhalus ucapan mereka mungkin awalnya berniat untuk menyemangati gw tapi kadang usaha menyemangati atau mendukung ini kelewat batas bahkan melukai perasaan orang yang disemangati tanpa mereka sadari.

imageCoba deh sebelum mengeluarkan ucapan yang maksud hati menyemangati itu posisikan diri sebagai orang yang disemangati yang mungkin sedang mengalami dilema tanpa diketahui orang lain, mungkin menangis dalam tiap doanya, mungkin pura-pura tersenyum saat ucapan serigala berbulu domba itu ia dengar, sedikit cemburu saat melihat orang lain berpasangan. Lalu apa untungnya bagi kalian-kita-mereka yang sok tahu tentang hidup mereka yang mencoba menyemangati jika memang dia akhirnya mendapatkan pasangan lalu menikah lalu punya anak lalu cucu? Bahagia? Apakah kita-kalian-mereka benar-benar bahagia, tulus mendoakan atau kita hanya pura-pura karena ga ada hal yang lebih seru dari hidup kita sendiri yang membuat kita harus mengusik hidup orang lain. Atau jangan-jangan mereka adalah komoditas yang empuk untuk dibully untuk menutupi betapa tidak bahagianya hidup kita sampai kita butuh hiburan? Gw ga tahu. 
Mungkin kita-kalian-mereka beranggapan menikah adalah solusi untuk hidup lebih bahagia, yakin bahagia? Atau jangan-jangan kita-kalian-mereka hanya ingin menarik menjorokin mereka yang bebas bahagia ke dalam lubang kepusingan bernama pernikahan karena manusia senang melihat orang susah dan susah liat orang senang 🙂 ?

imageMereka mungkin belum tidak menikah karena mereka punya pertimbangan sendiri, kondisi sendiri yang kita-kalian-mereka dengan tanpa pernah mendudukan persoalan pada posisinya mendadak menjadi orang paling peduli padahal sebenarnya hanya kepo. Kita-kalian-mereka mungkin kasihan dengan mereka yang bahagia sendiri karena sudut pandang pengertian definisi dan standart kita tentang kebahagiaan berbeda-beda.
Karena menikah bukan hanya soal punya pasangan, ngangkang, tempat tidur, dapur, cumbuan buaian kata-kata manis tapi tentang kebersamaan melewati semua pahit manis kehidupan yang semakin tidak mudah untuk dilalui seiring dengan perkembangan jaman dan kompleksitasnya seperti waktu yang lebih banyak di luar rumah di banding di rumah, lebih banyak ketemu rekan kerja daripada pasangan dan keluarga, media social, tingkat stres, mertua dan macam lainnya. Gw bukan bilang susah dan berat tapi itu sesuatu yang harus diusahakan bersama. Satu kesatuan hati jiwa dan pikiran dari dua orang dengan segala macam sifat, perbedaan dan persamaan mereka dan kehadiran gerbong lain bernama keluarga. Gw pernah dengar dari salah satu istri saudara sepupu gw “menikah itu bukan hanya gw dan koko lu tapi dengan keluarga koko lu dengan probematikanya dan itu tidak gampang tapi bisa diusahakan”
Ujuk-ujug orang menikah dengan alasan supaya bahagia, kalo dia susah kita mau bantu? Yakali nyet, palingan pada ketawa khan….

imagePercayalah jauh di lubuk hati mereka, mereka juga ingin menikah tapi siapa yang mampu mengetahui kapan ketemu jodoh dengan tepat selain sang Maha Pemberi.

Coba kita pikir-pikir kembali sebelum melontarkan pisau-pisau yang menghujam perasaan orang lain yang kadang bisa jadi bumerang bagi diri kita sendiri. Apakah kita benar-benar tulus mendoakan mendukung dan menyemangati mereka atau kita hanya pengen kepo dan rumpi. Bagaimanapun yang paling tahu hidup mereka adalah mereka bukan kita. Kebahagiaan mereka bukanlah tanggung jawab kita, standar kita berbeda.

Karena itu mari hargai mereka dengan menutup mulut sampah kita dan bermohon pada sang Maha Pemberi dalam doa-doa kita tulus iklas.
Marilah kita benar-benar berbahagia dengan membiarkan mereka bahagia dengan segala keputusan mereka

Karena Single dan Jomblo adalah manusia biasa yang punya perasaan dan berhak bahagia.

imageSalam Bahagia

Aling

PS: I do really happy for my cousin’s wedding proposal after what happened to her 7 years of waiting in vain relationship with a bad and wrong guy ( will write it after this post)

Advertisements

4 thoughts on “Soal Bahagia

  1. mrspassionfruit says:

    Emang nyebelin ya. Gw sekarang suka males loh menyelamati orang kawin/tunangan/baru dilamar di sosmed…
    Habisnya balesannya “Makasih ya… ayo kapan nyusul/giliranmu/dilamar/tunangan dsb”.
    Malah jadi nggak nyelametin sekarang soalnya sebel sendiri baca balasannya itu melulu kaya kaset rusak hahaha.

    • nonaling says:

      Hahahaha….kaset rusak…hahahah.
      Niat awalnya pengen kita bisa segera merasakan kebahagia seperti mereka, niatnya tapi kadang omongannya ga pake saringan macam pasangan bisa nemu di pasar 🙂
      Yang waras dan bebas bahagia sig ngalah aja ya hihihihi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s