Tetangga Sebelah

Setahun yang lalu saat memutuskan untuk berhenti menjadi anak kost dan belajar ribetnya ngurus rumah (nanti gw post ya kenapa gw pindah dan bagaimana akhirnya memutusjan gw pindah setelah 14 tahun tinggal di tempat yang sama), dan setahun lamanya gw hidup dengan pergaulan tetangga. Karna gw kerja senin sampai jumat, jam 7.30 pagi dah keluar rumah, paling cepat nyampe rumah jam 7 malam, gw jarang bertemu dengan para tetangga tapi gw mengenal tetangga sebelah kanan, tetangga kiri rumah ketiga (tetangga kiri pertama pernah gw senyumin tapi ga digubris ya udah ya bhay aja), pak RT, beberapa tetangga seberang rumah dan selurusan rumah yang sama sama tergabung dalam WAG lingkungan paroki kompleks

Meskipun jarang nyahut di WAG tapi gw sempat beberapa kali ikut kegiatan lingkungan itu juga karna diingatin di WA dan disamperin tetangga rumah ketiga sebelah kiri, sebut aja cici M yang adalah ibu rumah tangga dengan 1 anak

Hubungan gw dengan cici M cukup dekat terutama urusan per-mbakan, info2 tukang sayur dan tukang lainnya, info jika ada gangguan listrik atau PAM, bahkan saat gw enter wind karna ga ada yang bisa kerikin, gw terpaksa minta tolong cici M yang siap bantu.

Setelah tetangga seberang rumah gw yang adalah salah satu teman baiknya di kompleks ini meninggal Maret 2020 kemaren, cici M beberapa kali WA bilang dia kangen sama cici seberang rumah yang tiap hari dia temui sebelum beliau berpulang yang juga sempat kami jengkuk bersama ketika dirawat di RS. Sedih memang ketika salah satu orang yang kita kasihi berpulang lebih awal, dan gw berusaha menghibur dengan membalas WA ” nanti kalo corona dah selesai dah aman kita bisa menjenguk cici itu di peristirahatannya”

Setelah beberapa WA kangen yang mampu gw hibur, minggu lalu cici M WA bilang mau potong rambut, ngajak potong rambut tepatnya. Lagi lagi gw ga bisa bantu karna gw lagi pengen manjangin rambut dan masi waswas dengan corona. Tampaknya cici M sedih dan gw ga bisa membantu.

Gw sempat berpikir sambil cuci piring, bisa jadi cici M mungkin kesepian apalagi sejak cici seberang udah ga ada, mungkin cici M sedang berusaha menjalin pertemanan dengan gw di masa PSBB ini, bisa jadi.

Gw senang aja sih dapat teman baru di kompleks yang bisa saling bantu, hanya saja sejak PSBB dan WFH waktu gw habis buat kerja dan ngurus rumah yang mbakless bahkan olahraga aja ga bisa gw lakukan, kadang WA lama gw balas, mungkin cici M menduga gw enggan berteman padahal sebenarnya gw terlalu sibuk memanage waktu gw untuk tetap bisa produktif aktif positive vibe melewati WFH dan mbakless selama hampir 4 bulan ini.

Kemaren akhirnya gw singgah sebentar ke rumah cici M, ngantarin makan, sebagai ucapan terima kasih dan sambutan pertemanan yang coba dia jalin dengan lebih dekat dan akrab minggu lalu. Melihat dia tersenyum saat menerima semangkuk pork belly caramelized stew yang gw bawa sudah membuat gw lega.

Semangkuk babi kecap untuk teman baru

Pertemanan bisa dimulai di mana aja, dengan siapa aja dan gimana aja selama kita punya senyum manis, ketulusan dan sambutan hangat. Kita ga pernah tahu apa yang ditawarkan kehidupan tapi ketika niat baik pertemanan datang, sebaiknya disambut dengan tangan terbuka dan niat yang baik.

Xoxo

Aling yang dapat teman baru

Terasa dekat di suatu tempat

Pernah ga berada di suatu tempat rasanya sangat familiar bahkan terasa hangat di hati, seperti ada rasa gejolak bahagia yang tak terkatakan?

Gw pernah merasakan hal itu, akhir tahun 2019 lalu ketika gw ke Uzbekistan. Senang banget bisa ke Uzbekistan dan negara ~Stan lainnya. Ga seekstrim berasa reinkarnasi lahir di sana bisa liat macem-macem, familiar dengan tempat, engga! Rasanya lebih familiar dengan perasaannya, energinya positif dan bagus bahkan selama perjalanan 16 hari itu gw seperti menemukan diri gw, gw mengenal diri gw, mendengarkan apa yan diinginkan dan dibutuhkan diri gw, keluar dari sekat idealnya seorang manusia abad 21 yang dituntut sebaiknya hidupnya penuh dengan prestasi mentereng, pengalaman keren dan heits di jagat social media-pergaulan dan kantor, eh itu elu dan pikiran lu kali ling 🤣🤣🤣

Terlepas dari itu, perjalanan 16 hari itu membawa angin segar dan harapan baru bagi gw, setidaknya membuat gw memahami gw tidak perlu berkompetisi terhadap siapapun karna tiap orang memiliki kisahnya sendiri, jalannya sendiri, perjuangannya sendiri dan standart kehidupannya sendiri tanpa perlu diperdebatkan kecuali jika diperdebatkan dapat 1 Trilyun 🤑🤑🤑 (dasar mata duitan, heiiiiii duit bisa membayar kehidupan, bacot kagak) energi yang dikeluarkan dan hasil yang didapat kurang lebih sama ya bolehlah dijabanin.

Anehnya gw merasa nyaman di sana, mungkin karna wajah gw selama di sana serupa wajah warlok (warga lokal) yang sering diajak ngomong bahasa lokal atau bahasa Rusia mulai naik pesawat dari Kuala Lumpur menuju Tashkent ibukota Uzbekistan hingga penerbangan Tashkent – Kuala Lumpur.

Sis, mukanya galak beut

Sempat gw berpikir, jangan-jangan gw di masa lalu adalah salah satu warga lokal Asia Tengah, ahk terlalu jauh….atau jangan-jangan nenek moyang gw dulu warga lokal? tapi sepertinya tidak mungkin, keluarga bapak gw yang dari Kakek-Nenek bapak gw (generasi ke 2 lahir di Indonesia) dari bapaknya (kakek gw, generasi pertama lahir di Indonesia) datang Tiongkok langsung, neneknya bapak gw aja kakinya aja kecil karna diikat gitu, dari pihak nyokap gw udah lahir di Indonesia semua dengan kulit kuning dan beberapa bermata besar terlihat oriental, salah satu kakak sepupu gw malah terlihat seperti orang Thailand, salah satu om gw berkulit gelap dengan mata sipit, sementara yang lain ada yang berperawakan babah.

Rasanya pengen test DNA tapi ya mahal…..

Aling yang bertanya-tanya dalam hati siapa yang tau….

Random Trip 2019 : Asia Tengah

Kenapa ke ~Stan, kenapa Asia Tengah?

adalah pertanyaan yang paling yang sering gw terima setelah kembali ke Jakarta sehabis 16 hari keluyuran di Asia Tengah

Random Trip 2019 ternyata sudah dipersiapkan sejak 2018 ketika beli buku ini

pengen aja, iya pengen aja 😂, alasan dasar nan standar edisi malas ribet, tapi benar adanya karna pengen aja.

setelah gw telaah lebih jauh, berikut adalah beberapa jawaban serius ga serius juga kena akhirnya gw memilih Uzbekistan, Kyrgyzstan, Karakalpakstan, Tajikistan dan Kazakhstan tempat gw merayakan Natal dan pergantian tahun

  1. Iseng aja, serius iseng.
    Ketika iseng ngobrol dengan mas Ariev Rahman akhir Oktober 2019 gw kepikiran Uzbekistan dan saat bersamaan mas Arif bilang “ke Uzbekistan aja berani ga ci?” wow seperti gayung bersambut, memang saat browsing browsing ntah kenapa di kepala muncul Uzbekistan. Sempat ragu untuk pergi apalagi setelah tau di Kyrgyzstan ada suatu tradisi bride kidnapping, gw sempat jiper tapi ternyata nyampe Kyrgyzstan dengan aman dan nyaman. Tapi ya namanya iseng dan random aja ya akhirnya gw memutuskan untuk yuk, cus!

  1. Mewujudkan mimpi masa remaja. Gw menemukan alasan ini dalam perjalanan gw di Khiva, Uzbekistan yang semakin menguat ketika road trip di Kyrgyzstan apalagi ketemu keluarga di Cholpon Alta, Kyrgyzstan (sabar ya ceritanya nanti ditulis, seru dan lucunya ketemu keluarga) Ga ingat secara jelas gimana awal mulanya Silk Road bisa muncul di kepala gw ketika SMP, bahkan saat itu negara negara Stan ini masi baru melepaskan diri dari Uni Soviet dan nama Asia Tengah belum ada, hingga akhirnya internet datang gw mulai rajin mengumpulkan artikel tentang Silk Road atau Jalur Sutra, jalur perdagangan tertua di dunia yang menghubungkan Asia dan Eropa, Barat dan Timur menghasilkan akulturasi budaya agama hingga wajah/fisik.Sekian lama impian itu tidur dalam pikiran paling dalam hingga akhirnya muncul ke permukaan dan terwujud dalam perjalanan singkat.
  1. Bebas Visa
    Uzbekistan dan Kazakhstan memberlakukan bebas visa untuk kita warga +62 sementara Tajikistan dan Kyrgyzstan memberlakukan e-visa dan VOA. E-Visa Tajikistan cukup gampang isinya dalam 2 hari selesai sedangkan E-Visa Kyrgyzstan cukup detail isiannya tapi masih lebih gampang dibanding pertanyaan kapan kawin 😂😂😂😂

  1. Namanya juga random trip akhir tahun ya tujuannya pasti random random ga jelas (menurut orang lain) tapi ya hore dan berfaedah bagi kesehatan jiwa dan mental

  1. Negara ~Stan ini sebaiknya masuk dalam list kalian karna aslinya Uzbekistan Kyrgyzstan Kazakhstan dan Tajikistan cantiknya ga kaleng-kaleng, ramah di kantong dan orangnya sangat welcome
Setelah deg-degan takut ketinggalan connecting flight gara-gara penerbangan Jakarta Kuala Lumpur mendadak reschedule

Kadang kadang kita ga perlu jawaban atau alasan khusus kenapa kita harus mengunjungi suatu tempat, pergi ya pergi aja toh nanti akan banyak hal yang bisa dirasakan, dipelajari dan diceritakan dan dikenang kemudian hari

Bersambung….

Niat Baik di Bulan Baru

Sejak awal 2020, gw sempat berpikir beberapa hal tentang perubahan baik apa yang ingin gw lakukan dalam hidup gw secara konsisten. Beberapa resolusi sudah dicatat di notes di henpon, juga ditanamkan dalam ingatkan : “mari mengembangkan diri secara fisik, emosional dan kemampuan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri di 2020.

Sayangnya…..semua hanya panas-panas tahi ayam, hanya sesaat dan terlupakan bersama sejuta alasan yang bisa dibuat untuk menunda hingga tidak melakukan hal yang dicita-citakan.

Setelah 1 bulan WFH pun, ada banyak ide dan keinginan yang ingin dicapai, ditulis di buku catatan yang jarang dibuka karna kalah saing dengan keinginan buka aplikasi nonton atau komik. Dari banyaknya ide yang ada dibuku catatan, hanya beberapa yang dilakukan salah satunya bikin review oil setiap minggu yang konsisten dibuat selama bulan Mei hingga pertengahan Juni, sedangkan ngeblog 2x seminggu itu juga kalo ga malas (padahal banyak ide tulisan dan udah janji mau istiqomah nulis), bikin podcast yang ga jadi-jadi sejak podcast terakhir di bulan Januari 2020, olahraga yang hanya dilakukan kalo badan udah mulai pegal padahal yoga mat dan gym ball sudah dibeli sejak April ini keduanya hanya alas duduk saja, keingin bikin video unfaedah tante hebring tapi mati ide, meditasi 21 hari hanya bisa dilakukan beruntun selama 16 hari sisanya udah malas lagi malas lagi, diet tanpa karbo yang hanya bertahan selama 1 bulan penuh di bulan Mei dan mengendur seperti PSBB di bulan Juni. Semuanya tinggal keinginan yang tak pernah diwujudkan di sela-sela waktu kosong selama WFH.

Janji…Janji..tinggal janji…Bulan Madu hanya Mimpi – kata Bunda Hetty Koes Endang

apakah kalian tau judul lagu ini? (foto dari google image)

Kemaren malam di penghujung Juni 2020, seperti mendapatkan (pangsit) wangsit setelah pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri yang seperti bertanya pada rumput yang bergoyang, tak ada jawabannya, gw memutuskan untuk menulis di kertas beberapa hal yang harus gw lakukan selama 30 hari kedepan untuk memaksa diri gw mencapai target pengembangan diri yang dicita-citakan sejak awal 2020, lalu menempelkan kertas itu di lemari yang menghadap tempat tidur, dengan harapan gw ingat dan wes ewes ewes bablas malasnya, bahkan gw membuat log book per hari apa saja dari target-target sederhana yang bisa gw capai tiap harinya sehingga nantinya akan menjadi kebiasaan baru yang baik dan permanen seperti spidol.

Salah satu target gw adalah selama 30 hari ke depan di bulan Juli gw harus menulis 1 tulisan di blog, tempat di mana gw bisa nulis sesuka hati gw tanpa peduli “btw kok gambar dan captionnya kok ga nyambung ya” atau mendapat komen-komen menguji kewarasan “kapan kawin”

Netijen oh Netijen (Foto dari Google Image)

Tentu saja bukan cuman nulis asal nulis-posting demi centang log book tapi benar-benar menulis ide-ide yang sliweran di kepala sejak lama sekalian menentramkan sedikit kepala yang kepenuhan ide yang bikin kentang.

Jadi, gw anggap ini posting pertama gw di 30 hari ke depan atau bahasa kerennya 30 Days Challenge dan besok, besoknya lagi, besok besoknya lagi, hingga besoknya 29 hari lagi semua target gw tercapai dan menjadi kebiasaan baik baru di 2020 yang selamanya akan menjadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Ada Amin sodara-sodara????

Semoga gw istiqomah selama 30 hari ke depan (Foto dari Google Image)

Xoxo

Aling yang niatnya sekuat nyonya meneer

Nostagia di Meja Makan

Selama WFH hampir 3 bulan ini kegiatan yang paling sering gw lakukan adalah nemenin bokap ngobrol nostagia. Banyak topik yang menjadi nostagia dengan bokap di meja makan saat makan siang dan makan malam. Jujur saya sebelum WFH makan siang dan malam bersama itu hanya terjadi di hari sabtu, minggu atau hari libur, itu juga kalo gw ga ada janji sama teman di hari itu ya. Ya yang patut disyukuri dari WHF ini adalah gw jadi punya waktu makan sambil ngobrol dengan bokap selain gw sama kakak gw melakukan banyak percakapan bodoh dengan bahasa dan logat daerah kami, bahasa dan logat Nias, kapan-kapan gw rekam pembicaraan ngawur kami jadi podcast dan gw share.

Pembicaraan nostagia dengan bokap macam-macam topiknya mulai dari silsilah keluarga, hubungan kekerabatan di Nias yang 2SL Saudara lagi saudara lagi, cerita masa muda bokap dan orang-orang di kampung halaman kami, makanan yang sering kita makan di rumah hingga legend-legend kuliner di Nias pada masanya.

kadang yang diomongin hal yang udah pernah diomongin sebelumnya dan masih aja gw kadang suka lupa dan nanya lagi, itu juga karna gw tertarik dengan topik hubungan kekerabatan, adat istiadat dan kebiasaan dan makanan. Gw pernah berpikir untuk menulis atau merekam pembicaraan kami sehingga suatu hari ketika dibutuhkan informasinya sudah ada, ga seperti resep-resep keluarga yang ga sempat gw tulis apalagi rekam dari nyokap dulu, giliran sekarang pengen makan ga bisa masak, khan sedih.

Akhirnya tadi malam ketika kami sedang membahas soal sate padang enak menurut versi kampung halaman nan jauh di mato, gw bilang ke bokap kalo gw akan mulai merekam pembicaraan kami supaya bisa gw dokumentasikan suatu hari nanti. Ga akan menghasilkan duit sih tapi setidaknya cara ini bisa membantu bokap untuk tetap aktif berpikir positif dan indah di masa pensiunnya juga mengeratkan hubungan kami.

Sebenarnya gw sudah mulai menulis silsilah keluarga dari pihak bokap tapi baru sebagian kecil karna banyak nama saudara dan tanggal/tahun lahir dan meninggal yang ga diingat bokap lagi, apalagi foto. Boro-boro punya leluhur, foto gw waktu kecil aja banyak yang hilang ditelan gempa 2005 lalu kok bahkan ijasah SMA gw aja dimakan gempa, gimana gw mau maju caleg nih nanti, musti balik ke SMA untuk minta surat pernyataan dan salinan rapor dari sekolah, mana pak kepsek udah meninggal pula…

Selama 1 tahun gw sempat berhenti nulis tentang silsilah ini, alasannya malas aja ngeupdate padahal catatannya sudah ada bahkan beberapa foto juga sudah ada, dasar pemalas!😩🦥

Mungkin ini bisa menjadi tema tulisan gw, berbagi soal kenangan masa kecil kami masa di kampung halaman sebelum henpon apalagi internet muncul di kampung halaman kami.

Kalo kita bahas soal sate padang , enak nih

cucmey ya gaes….

xoxo

Aling dari meja makan

Siapkah kamu injak Mall, begaul di New Normal?

Besok 15 Juni 2020 Mall di seluruh Jakarta akan dibuka sebagai bagian dari pemulihan ekonomi pasca PSBB dan awal dari kelaziman baru atau New Norma setelah 2 bulan PSBB diberlakukan 06 April 2020.

Beberapa orang sudah mulai menyebar luaskan protokol kunjungan ke mall di minggu pagi, setidaknya ada 2 mall besar yang sudah menyiapkan diri untuk membuka pintu bagi para warga Jakarta, membuka kembali pekerjaan bagi ratusan karyawan mall yang terpaksa di rumahkan mungkin tanpa bayaran sejak mal-mal ditutup.

Protokol masuk mall ini disambut dengan beragam oleh warganet, setidaknya warganet twitter sumber informasi andalan gw. Ada yang komen soal semprotan dettol disinfektan, ada yang komen “bentar lagi jadi konten”, ada yang komen “ga makasi masih betah di rumah” ada yang komen “ekonomi harus segera bergerak lagi”, ada yang komen “yuk (mention teman) kita meluncur”, ada juga warganet yang membandingkan protokol mall di Jakarta dengan Bangkok, beragam komentarnya.

Gw sendiri sudah menentukan pilihan untuk tidak ke mall dulu untuk sementara sampai kondisi aman dengan beberapa alasan berikut :

Menularkan atau ditukarkan

gw tahu gimana kondisi gw saat ini, apakah gw negatif atau malah OTG, gw juga ga tahu kondisi imunitas gw, saat ini gw sehat walafiat, tidak demam, tidak batuk, tidak sesak, tidak ada gejala flu atau penyakit lainnya. Anggaplah gw sehat dan negatif tapi gw ga tau apakah imunitas gw Joss atau malah drop, ketika gw keluar gw bisa menghindari orang dengan jalan super hati-hati tapi gw ga bisa mengontrol orang lain untuk ga sengaja nyenggol gw tau nyentuh gw trus gw ga sadar nyentuh bagian muka gw. Dalam hal ini gw bisa menularkan dan ditularkan jika gw tidak mawas diri di ruang publik seperti mal.

Dan bisa dipastikan bukan suudzon pasti banyak yang berlomba ke paling duluan ke mall padahal urgensinya ga ada, berlomba paling duluan merasakan new normal, paling duluan upload tiktok new normal, paling duluan posting di sosial media “new normal”, paling duluan “hai gaes gw di mal X nih, mau coba ngemal di new normal, ikutin gw terus ya”, bisa jadi mereka duluan yang duluan “hai gaes gw di ruang isolasi”.

Sifat dasar manusia memang kek yamaha pengennya selalu di depan, jiwa kompetisinya tinggi melebihi Burj Khalifa.

Antara menularkan dan ditularkan (Sumber : google image)
Antara menularkan dan ditularkan (Sumber : google image)

Aturan Kantor

Kantor gw juga cukup ketat dan menganggapi Covid-19 ini secara serius. Sejak kasus Covid-19 muncul di awal 2020 hampir tiap minggu kantor mengadakan penyuluhan,email notifikasi tentang covid-19 hingga larangan melakukan perjalanan dinas/pribadi keluar negeri terhitung Februari 2020, dan ada 2 orang yang balik dari luar negeri baik perjalanan dinas maupun pribadi diwajibkan karantina mandiri selama 14 hari di rumah ga boleh ke kantor. Bahkan sebelum PSBB dimulai, sebagian karyawan sudah kerja dari rumah sejak 17 Maret 2020 yang awalnya dibagi dalam 2 team dengan sistem seminggu ngantor seminggu rebahan di rumah hingga akhirnya resmi semua karyawan kerja dari rumah per tanggal 24 Maret (23 Maret kantor libur in liue). Sejak semua karyawan dirumahkan, setiap pagi ada teleconference tiap team untuk update kerjaan dan kondisi kesehatan/keamanan juga update Covid-19. Saat beberapa kantor sudah mulai menerapkan New Normal tanggal 08 Juni 2020, hingga sekarang belum ada informasi resmi kapan akan kembali ke kantor, kantor masih ambil posisi memantau perkembangan Covid-19 di Indonesia yang seminggu terakhir angka kasus positifnya meroket. Jikapun sudah kembali ke kantor, ada protokol kesehatan yang wajib dilakukan salah satunya protokol bepergian, jika terpaksa melakukan perjalanan domestik baik dinas ataupun pribadi wajib lapor ke atasan dan akan direcord oleh team kesehatan kantor, belum termasuk jika memang ada aturan karantina maka wajib melakukan karantina mandiri dan mengisi absensi cuti karantina.

Bayangkan ribetnya jika gw ke mall trus gw demam masuk RS lalu ternyata positif gw harus lapor kantor gw masuk RS dan satu kantor tau belum lagi mulut silet Fenny rose warga kantor yang ga bisa kita kontrol ya. Ga usah positif deh, kalo gw ke mall dan ternyata ada info bahwa pengunjung mall tanggal XX ada yang terkena Covid-19 dan pengunjung pada tanggal tersebut harap memeriksakan diri, gimana jantung ga marathon, harus memeriksakan diri dalam kondisi faskes yang bikin bulu kuduk merinding 😨☠️👻 dan nakes yang sudah kelelahan, stress lalu yang mungkin negatif taunya malah terpapar di RS saat pemeriksaan, karantina di Rumah Sakit.

Gimana kalo ternyata hasil Swap gw tertukar seperti di sinetron-sinetron? trus gw diperlakukan Covid-19 padahal negatif, yang ada stres gw.

korban sinetron di masa kecil kek gini, otaknya jalan lebih cepat daripada cahaya

Ok itu terlalu jauh , ternyata setelah pemeriksaan negatif dan tetap harus karantina mandiri 14 hari tetap aja gw musti lapor kantor khan trus ditanya gimana ceritanya “uhmmm aku kluster Mall X” “uhmm aku cluster kafe Y” rasanya pengen ngubur diri ke dalam perut bumi yang paling dalam untuk kelalaian yang tingkat lalainya di luar nalar 😵🤯. Bhay lah ini….gw malas ribet, ga pengen profesionalisme gw yang udah gw bangun lama rusak karna “oh yang ke mall itu ya?” (lalu nyanyi gugur bunga….🥀🍃🍂)

Jomblo lama aja gw kuat apalagi ga ke mall

Terakhir kali gw ke mall itu, hmmm gw lupa sangkin lamanya tapi ga selama gw jomblo sih. Mungkin terakhir ke mall itu Februari 2020 karna begitu pengumuman Kasus Covid-19 pertama di 2 Maret 2020 gw lagi dinas di Surabaya dan 06 Maret 2020 balik ke Jakarta gw udah ga ke mall lagi dan mall yang gw kunjungi terakhir itu Sency kalo ga salah itu juga nonton kalo ga salah.

Dibandingkan dengan masa jomblo gw aja kayanya lamaan masa jomblo gw dibandingkan ga ke mall ga nongkrong ga bergaul, tapi gw masih ingat sih alasan putus terakhir apa meskipun gw ga ingat ngapain dan di mall mana gw terakhir keluyuran sebelum PSBB.

Nabung buat Jalan jalan eh nikah

Awal bulan Juni ketika rekap pengeluaran, tabungan, tagihan dan bayar-bayaran, gw mendapat hal yang bikin senang banget sesenang KPK berhasil menggagalkan korupsi jutaan milyar yang merugikan negara karna banyak pengeluaran yang bisa diselamatkan (kek KPK aja sih ling bahasa lu), banyak pos biaya yang selama ini ada ternyata tidak perlu bahkan termasuk pemborosan dalih uang capek uang senang-senang (ini siapa sih yang nyiptain istilah ini? hah?). Sebelum WFH dalam seminggu gw bisa 4-5x ke mall sepulang kantor atau sabtu, ntah itu ketemu teman sambil makan, nonton film, jalan-jalan ngiterin mall niatnya cuci mata taunya malah cuci dompet, belanja kebutuhan rumah di supermarket bahkan hingga nunggu macet atau hujan reda ngemall, kurang ngemall apa coba hidup gw sebelum WFH.

Tapi WFH dan Covid-19 malah membuat gw ga terikat dengan mall lagi, ga rindu mall bahkan ga pengen injak mall supaya bisa nabung buat nikah (AMIN) kalo ketemu jodoh ya, atao ga buat jalan-jalan ngabisin cuti yang kebanyakan (semoga cuti gw yang masih 25 hari di tahun 2020 ini bisa dibawa ke 2021, pengen berkelana siapa tau ketemu jodohkuuuu (nyanyi bareng Anang dan Syahrini)

Toh belanja bisa dilakukan online sekarang dan belanjanya juga barang-barang premier yang memang dibutuhkan untuk makan atau nyaman di rumah.

Ya kalo ga modal nikah ya minimal modal petualangan siapa tau ketemu jodoh khan ya ya ya (sumber : google image)

Betah di rumah

AP…AP…APPAAAA??? BETAH DI RUMAH? YANG BONENG LU?

Iya, sejak WFH gw betah di rumah, gw menemukan banyak hal untuk dilakukan di rumah sampai gw merasa waktu gw ga cukup, masih banyak hal yang belum gw lakukan. Kok bisa? Ya bisa…mari kita bayangkan bersama-sama, jam 9 gw kerja yang dimulai dengan teleconference dengan bos dan team, lalu kerja hingga jam 12, lalu nyiapkan makan siang-makan dan beres-beres selesai di jam 1.30 atau 2 siang lalu gw kerja lagi hingga jam 7 malam. Lalu beres-beres buat masak makan malam, makan malam, beres-beres dapur termasuk nyapu ngepel udah jam 10 malam aja. jam 10 ke atas gw manfaatkan untuk baca komik atau nonton 1 drakor kalo ga malas. kadang sembari nunggu masakan masak atao capek kerja gw ngaso bentar belajar bahasa mandarin atau korea di apps duolingo, atau kadang bikin video tentang essential oil yang perlu beberapa kali diulang karna mulut gw belum selemes Youtuber terlatih, belum lagi belajar ngedit video, dan sekarang mulai rajin menulis. Belum termasuk mulai yoga dan meditasi yang ga jadi-jadi. Boro-boro bosan…ada banyak hal yang bisa dikerjakan kadang musti dijadwalkan kapan harus melakukan apa supaya tetap bisa dilakukan meskipun sambil selonjoran ato dasteran seperti saat lagi nulis ini di hari minggu malam. memang kudu ga boleh bosan untuk menemukan kegiatan supaya ga bosan.

Emang ga pernah bosan sama sekali apa Ling? Pernah, dan gw ga melakukan apapun selain rebahan, makan, malas-malasan merehatkan kepala yang jenuh. Mencari kegiatan lain yang menggantikan atau mengalihan disrupsi kebiasaan ngemall nongkrong ketemu orang, seperti baca perkelahian netijen di twitter, tertawa nonton tiktok, videocall dengan teman atau sekedar bikin playlist spotify

Saat WFH ini ide-ide kosmos memang dibutuhkan untuk menetralkan hentakan emosi kebosanan kejenuhan disrupsi kebiasaan bebas kita sebelum WFH, kalo kamu bingung coba tanya galileo…mungkin dia punya ide kosmos.

Bosan? mati gaya…? aku sih engga! Ga tau kalo mas Anang 🤷‍♀️🤷‍♂️

kalopun ada orang yang memutuskan untuk nongkrong atau ngemall karna BOSAN TAU LING DI RUMAH KITA ITU KHAN MAKHLUK SOSIAL, ya boleh aja, bebas hyung, hidup ini khan pilihan masing-masing toh kondisi kita berbeda hanya saja sebelum melakukan pikirkan baik-baik dampaknya buat diri sendiri dulu deh ga usah mikir orang lain, seberapa penting lu harus ngemall atau nongkrong, tanyakan pada diri sendiri apakah siap dikarantina apalagi sampai staycation di ruang isolasi?

lebih bosan mana di ruang isolasi atau di rumah bebas jungkir balik disko sambil kayang sehat dan tetap waras?

coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang….dudu…dududu…

kalo kamu ga bisa jawab jangan tanya pada rumput bergoyang karna dia juga ga bisa jawab….kamu yang bisa jawab dengan melepaskan egomu dan menggunakan akal sehat dan sedikit kewaspadaan kepedulian yang masih tersisa, jika ada

xoxo

Aling yang sudah 3 bulan kurang 3 hari WFH

Ke mana aja selama ini?

Lama ga nulis, iya lama banget, terakhir benar-benar nulis di halaman wordpress ini Juli 2017, hampir 3 tahun lalu. Selama 2018 hingga 2019 benar-benar vakum ga nulis sama sekali bahwa kepikiran aja engga.

lalu muncul tulisan tentang Korea Utara di bulan Februari 2020, itu juga copy paste dari tulisan di FB, paste di wordpress dan bhay tak pernah buka wordpress sama sekali.

Sampai akhirnya 30 Mei 2020 setelah ikut webinar tentang content writer, akhirnya mulai nulis lagi meskipun nulisnya ga terlalu penting.

Sebenarnya gw juga bertanya pada diri sendiri gw ke mana aja ya sampe gw ga nulis sama sekali, padahal ada banyak hal yang bisa dibagi, ada banyak kata kalimat dan cerita yang bersliweran semrawut di kepala saat cuci piring, saat ngepel, saat liat/dengar/baca sesuatu bahkan saat mau tidur kepalanya kadang masih muter penuh dengan kata-kata.

Dua minggu terakhir sejak kembali nulis, akhirnya gw menemukan jawaban ke mana aja gw selama ini. Gw sibuk menyembunyikan diri gw dari semua orang termasuk diri gw sendiri, karna gw merasa tulisan gw ga berguna, lebay, alai, tidak menarik, tidak lucu, tidak artistik dengan tema tulisan yang juga ga jelas serta unfaedah. Malu, menyembuyikan diri berbungkus kemalasan lebih memilih rebahan nonton drakor, baca komik atau nonton pertikaian netijen di media sosial.

Dan webinar kemaren itulah titik balik gw, gw menemukan kembali semangat untuk mulai konsisten menulis, untuk dengan berani menuangkan ide ataupun cerita yang sliweran di kepala yang bikin susah tidur, berhenti menjadi penonton dan mulai membuat panggung sendiri, untuk lebih percaya diri bahwa sealay alaynya tulisan gw pasti ada yang minimal mentertawakan tulisan gw, menerima kekurangan keunfaedahan tulisan gw ini sebagai kelebihan gw.

Menulis kembali bisa menjadi wujud gw penerimaan diri, penghargaan terhadap diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri dan sebagai bagian dari perjalanan proses hidup untuk menjadi lebih bahagia menurut versi diri sendiri.

Iya, terlalu lama gw bersembunyi di balik rebahan aja padahal ga pede, takut dicela, takut dicengcengin, padahal tiap hari ada banyak ide cerita yang muter-muter di kepala. Dan kali ini gw memutuskan untuk melangkah keluar dari kemalasan haqueque gw

Dan gw akan banyak bercerita tentang kehidupan peranakan yang gw kenal dan gw jalani sepanjang hidup gw, sesekali bercampur kehidupan lajang ibukota yang penuh pertanyaan “kapan kawin”, perjalanan-perjalanan random yang kadang bikin susah diri sendiri.

semoga gw terus bisa menulis, kalo ga kuat ya harus kuat karna ga ada yang ga mungkin kalo niat.

Xoxo

Aling yang udah tobat!

Lanjut Lagi nih Panggilan Tionghoa?

Edit Post

Akhirnya tadi baca lagi tulisan ini, tulisan yang dibuat tahun 2014 (ngetik draftnya sepulang kantor, lalu baca baca lagi sampai tengah malam saat tak bisa tidur lanjut lagi🤔 ) dan yang paling banyak komennya juga pertanyaan terutama menjelang Imlek hingga sekarang. Dan setelah membaca, gw memahami bahwa bagi orang awam yang ga familiar dengan panggilan Tionghoa pasti jlimet membacanya, boro paham baca aja jlimet😵.

Gw cukup terkesima dan bangga (sebenarnya pengen bilang mau sombong tapi takut dosa😨) bagaimana gw sudah memahami ini sejak SD hingga sekarang kadang masih corrector (tukang koreksi maksudnya) pas ketemuan keluarga.

Sejak kecil gw dibiasakan dan diajar untuk bisa memanggil keluarga atau orang lain dengan panggilan Tionghoa lengkap dengan urutan kekerabatannya, gw ga paham bagaimana otak gw bisa mencerna dan mengingat semua itu hingga sekarang.

Bukan cuman panggilan tapi hubungan kekerabatan keluarga dari yang dekat hingga yang jauh juga gw ingat. Bahkan saat sekarang di rumah aja ada saja momen ngobrol sama bokap tentang orang -orang kampung halaman kami dan kekerabatannya, ga jarang gw kadang merekam atau mencatat pembicaraan bokap, kadang nimpalin pembicaraan bokap yang lagi nostalgia dengan om gw sampai om gw heran kenapa gw bisa paham.

Mungkin ga penting untuk kehidupan masa sekarang tapi untuk gw yang senang sejarah apalagi sejarah peranakan ini menjadi pengetahuan dan hiburan sendiri, di mana ketika ketemu om tante yang lebih tua atau saat pulang kampung bisa ngobrol dengan panjang x lebar.

Balik lagi ke soal panggilan Tionghoa, gw rasa gw bisa menguasai informasi ini dari kekepoan gw terhadap budaya peranakan. Karna gw tertarik maka gw memberikan perhatian terhadap itu.

Lagi berpikir untuk membuat video di Youtube untuk menjelaskan soal panggilan Tionghoa ini supaya bisa membantu teman-teman yang lain.

Kapan tayangnya?

Buat aja belum, ini juga masih mikir kapan mau buat dan konsepnya seperti apa yang bikin penontonnya ga sejlimet ketika membaca tulisan sebelumnya 😂😂

Doakan semoga gw bisa segera bikin videonya dan bisa terus update blog ini, berbagi kehidupan Lajang Ibukota dan Peranakan Indonesia.

xoxo

Aling

Annyeong hasimnika, Welcome to Pyongyang

kepala mulai terasa sakit 20 menit setelah pesawat take off dari Beijing Internasional Airport, salah satu dari 3 bandara Internasional penghubung dunia menuju Korea Utara, sakit karna malam sebelumnya kehujanan setelah balik dari Great Wall hujan deras mengguyur Beijing sore hingga malam.

Di atas pesawat buatan Rusia yang sedang mengalami sedikit turbulensi sakit kepala makin bertambah karna tidak banyak informasi yang kami dapatkan tentang Aturan Main di Korut juga membuat jantung gw berdebar kencang hingga sempat merutuki diri “kenapa nekat ke Korut coba?” Telat sadar tiada guna ling.

Pramugari membagikan kertas kecil yang harus kami isi data diri dan mendeclare semua barang yang kami bawa, uang, gps/telpon satelit/hp, buah,telur, buku, benda tajam atau barang berbahaya lain. Gw mencontek semua yang ditulis mas Ariev Rahman yang duduk di sebelah gw kecuali buku karna gw tidak membawa buku, alkitab, rosario atau atribut keagamaan lain selama trip ini.

Merelakskan otot muka, gw mencoba ngobrol dengan pak dokter Herman Angran yang ketika itu masih netijen +62 mode on, kami tak berani foto-foto karna sudah dapat info tidak boleh foto sembarang tapi kami masi bisa selfie grup melenturkan suasana yang kaku seperti kanebo kering.

Mukanya dah tegang kaku kek kanebo

Setelah 2 jam penerbangan dan Beijing, RRC, pesawat Air Koryo, maskapai Nasional Korea Utara mendarat dengan mulus di Pyongyang Sunan Internasional Airport

Pintu pesawat dibuka dan kami memilih tetap diam, tertib dan melihat sekeliling.

kami saling mengingatkan untuk tetap dalam satu grup dan menjaga lisan, pikiran dan perbuatan karna kami akan melewati imigrasi, pintu di mana kami akan memasuki Korea Utara secara resmi atau harus pulang ke Cina.

Kami turun dari pesawat dengan sopan dalam diam tak mampu mengibas rambut seperti Soe Dan yang balik dari Rusia

Jantung gw berdebar kencang, sekencang ngebut naik motor 128km pp di panas terik Srilanka di 2018.

Kali pertama kali dalam hidup gw deg-degan melewati imigrasi, mungkin efek telat bangun dan kurang sarapan tadi pagi hibur gw, sembari memberanikan diri berbaris di antrian imigrasi yang sepi.

Petugas melambaikan tangan, gw melangkah maju dengan gagah berani sambil berdoa dalam hati. Petugas tersenyum saat mengambil passport yang gw serahkan, menyebut nama, menanyakan alamat dan jegrek, visa di passport dicap.

Senyum dulu gaes, visa udah di tangan bagasi dah masuk siap cus kita

Puji Tuhan, resmi masuk Korea Utara tanpa adegan tersangkut di pohon dan lari-lari di hutan seperti Yoon Se Ri.

Kami ber 11 berhasil melewati imigrasi dengan baik dan resmi, tersenyum lega sambil nunggu bagasi keluar, bercerita betapa kami paranoid sendiri.

Seperti di semua bandara di seluruh dunia, bawaan kami juga harus melewati scanner sebelum keluar Bandara Sunan yang rapi dan bersih.

Lagi lagi gw deg-degan karna ketika check in di Beijing koper gw sempat bunyi karna gantung kunci sempoa yang terbuat dari besi terbaca disensor yang setelah diperlihatkan ke petugas dinyatakan aman untuk dibawa dalam koper. Oh plis Tuhan ijinkan gw masuk Korut dengan aman plis, doa gw saat itu sambil siaga jika memang koper akan dibuka petugas.

Koper gw dinyatakan lewat sedangkan mas Ariev Rahman harus mengeluarkan buku dari kopernya untuk dicek oleh petugas.

Lega koper aman, gw melenggang ke toilet, tapi hanya sekejap, gw panggil lagi masuk ke dalam dengan membawa koper karna koper gw ternyata belum diperiksa.

Benda yang bikin gw balik lagi tas diperiksa

Ditemani Sim Jin A guide lokal kami yang cerdas nan rupawan, gw masuk lagi ke dalam membawa koper, dengan pede sejuta buka koper membiarkan petugas mencek barang gw dan benar gantungan kunci sempoa dan hair dryer biang keroknya. Jin A membantu menjelaskan kedua beda tersebut dan petugas tersenyum merapikan barang dan menutup koper gw dengan baik.

Yoon A ling dan Sim Jin A

Gw keluar dengan senyum, 10 teman lain ikut tersenyum lega tapi gw buru buru meninggalkan koper dan backpack gw ke Mas Arif dan Jin A, lari ke toilet karna kebelet pipis dari pesawat

Bersambung……

Lanjutan Panggilan Keluarga Tionghoa

Dari semua tulisan ngaco saya di blog ini, ternyata tulisan Panggilan keluarga ini yang paling banyak mendapat respon meskipun sudah 3 tahun berlalu. Responnya pun beragam, mulai dari komentar “sangat membantu”, tanya jawab, minta dijelasin lagi, nyaranin bikin family treenya, hingga curhat silsilah yang membuat saya bingung sekaligus senyum-senyum sendiri.

Dari beberapa komen yang masuk, ada beberapa yang menggelitik, bikin saya geleng-geleng kepala sampai ngurut dada ga tahu harus menjawab apa dan gimana.

Akhirnya kemaren saya membaca ulang kembali tulisan ini dan menyadari kebingungan netijen yang membaca, apalagi mereka ga familiar bahkan ga tahu tentang tata cara panggilan kekerabatan dalam keluarga Tionghoa. Beda dengan saya yang sudah bisa mengurutkan panggilan ini dalam pikiran saya, maklum ibu saya cukup keras untuk urusan kekerabatan dan sopan santun. Betul, bagan diperlukan untuk lebih membantu memahami tata cara panggilan keluarga Tionghoa ini, kalo bisa sih dibikinkan video malah lebih bagus lagi, nah ada yang bantuin bikin VLognya ga nih 🙄🤔

Dari banyaknya respon, komentar dan pertanyaan, saya jadi melihat bahwa masih banyak orang-orang yang kurang tahu dan pengen tahu tentang kebudayaan Tionghoa,  baik itu karena memang akan segera menikah ataupun karen penasaran dengan akar budayanya.

Sebenarnya banyak hal yang mau saya bagikan dari apa yang saya tahu dan pelajari dari ibu saya, dan beberapa cerita tentang kehidupan sebagai wanita keturunan Tionghoa dalam keseharian saya sebagai warga negara Indonesia yang lahir, besar, kerja, bayar pajak dan bangga dengan paspor hijau, Indonesia. Tentang pertemanan saya dengan mereka yang berbeda suku dan agama, tentang label “tipikal” tionghoa yang malah menjadi humor menyegarkan bagi saya dan teman-teman saya.

Jujur saja saya tidak punya banyak keberanian mengingat apa yang sedang terjadi di masyarakat kita beberapa bulan terakhir. Tapo seorang teman malah menyarankan saya untuk menulis dengan bahasa sederhana dan dalam humor, sebagai bagian dari awareness kebhinekaan dari kacamata saya sebagai perempuan dengan darah peranakan saya.

Tapi akan saya coba, mulai dari yang sederhana dulu ya karena mental saya belum sekuat mental dek Afi Nihaya 😊😊😊 di belantara netijen yang kritis.
Ada ide mau tulis apa dulu sebagai tulisan pembuka serial tionghoa peranakan?